Senin, 10 Mei 2010

Lebaran ke Sanggau

Cori sedang dipangku ibu di depan teras rumah keluarga di Sanggau. Rumah itu dekat dengan sungai. Jernih airnya dan dalam.

Nenek Cori, Nenek Nazariyah berasal dari Sanggau.

Cori dan Keluarga tidak setiap tahun pulang ke Sanggau. Pulang biasanya pas Lebaran atau ada Keluarga Kawinan, atau ada yang meninggal.

Kalau pakai mobil, sekitar 5 jam dari Pontianak ke arah timur.

Nenek masih punya banyak keluarga di Sanggau.

Kalau sudah di Sanggau, kami sekeluarga muter-muter ke rumah keluarga.

Senang rasanya bisa berkunjung ke rumah kelahiran nenek.

Kalau nenek dari ayah, kelahiran Jepara di Jawa Tengah. Cori belum pernah ke Jepara.

Jepara kota kelahiran ibu Kartini, tokoh Emansipasi wanita. Juga kelahiran Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat yang sangat terkenal itu.

Nama adik Cori, Shima, diambil dari nama Ratu Shima.

Suatu saat, Cori dan Keluarga ingin ke Jepara.

Kamis, 11 Februari 2010

Shima Lihat Lukisan

Shima bingung atau kagum, ya...??

Lihat lukisan sampai bengong gitu....

Habisnya, lukisannya bagus dan keren.

Itu lukisan yang dikasih Om Sugeng Hendratno. Dulu Om Sugeng melukis. Sekarang lebih banyak memotret.

Gambarnya topeng dengan berbagai ekspresi.

Pokoknya, keren punya lho....

Terima kasih ya Om Sugeng untuk lukisannya.

Senin, 18 Januari 2010

Cori Belajar Membaca

Meski belum bisa membaca, Cori senang sekali melihat-lihat buku. Cori juga senang dibacakan cerita sebuah buku.

Suatu saat, dia melihat buku yang bergambar anak kecil dan tertarik untuk membukanya. Buku itu berjudul A Child Called 'It, karya Dave Pelzer.

Dave Pelzer menulis beberapa buku, yang merupakan pengalaman hidupnya. Ada empat buku. A Child Called "It", The Lost Boy, A Man Named Dave, dan Help Yourself.

Buku-buku itu berisi pengalamannya masa kecil yang disiksa oleh ibu sendiri. Namun, dia berusaha tabah dan bertahan untuk terus hidup dan bangkit, sampai dia diadopsi oleh gurunya.

Selesai membaca buku-buku Dave Pelzer, kita selalu diingatkan bahwa, ada anak-anak kecil yang harus selalu dilindungi, dan menjadikan rumah serta keluarga, sebagai tempat teraman, melindungi, serta memberikan inspirasi, bagi kehidupan yang harus anak-anak jalani......

Minggu, 29 November 2009


Cori Manasik Haji

Senin, 30 November 2009, 13 Zulhijah, Cori mengikuti kegiatan Manasik Haji, bersama teman-temannya dari Play Group Mujahidin. Wuiiih...senang dan terharu melihatnya. Cori nampak serius mengikuti kegiatan itu, meski sesekali konsentrasinya terpecah karena melihat ayah yang sibuk motret...

Pengalaman itu, sangat berharga bagi Cori. Meski baru 2,8 tahun, sudah diajarin bagaimana melaksanakan ibadah haji. Ibu dan ayahnya sendiri, tidak tahu tahapan demi tahapan menunaikan ibadah haji. "Serasa benar-benar sedang mengalami ya," kata ayah, saat memotret kegiatan itu.

Hemmm, ibu pun menjadi terharu. Lihat Cori sangat menikmati kegiatan tersebut hingga selesai. Puluhan orangtua pun ikut mengantar anak-anaknya. Namun situasi jadi tidak teratur, karena sebagian para orangtua itu, membaur di antara anak-anak peserta manasik.

Cori terlihat menjalani tahap demi tahap manasik haji itu. Mungkin tidak lengkap seperti penyelenggaraan haji sesungguhnya. Tapi cukup membuat Cori dan teman-temannya, menikmati. Ya... menikmati versi anak-anak. Masih jauh dari memahami.

Mereka menjalani tahapan, mulai dari melempar jumrah dengan berbekal 10 butir batu dari rumah. Kemudian berdiam sejenak, melakukan thawaf (mengelilingi ka'bah), minum air zam-zam untuk menghilangkan haus. Lanjut lagi, Sa'i berlari-lari kecil, mencukur rambut bagi peserta laki-laki, dan... menyaksikan pemotongan hewan kurban.

Kalau mau jelasnya, Cori, ini loh tahapan berhajinya: Ibu barusan riset di google.
Ada beberapa Rukun Haji, dan jika ditinggalkan, haji menjadi batal. Rukun itu:
1. Ihram; 2. Wukuf di Arafah; 3. Thawaf Ifadhah; 4. Sa'i; 5. Tahallul; 6. Berurut (Syafi'i)

Kemudian wajib-wajib Haji dan jika ditinggalkan, wajib memotong DAM: 1. Berihram dari Miqat; 2. Mengucapkan Talbiyah (minimal sekali); 3. Memakai pakaian khusus (pria: 2 potong kain tak berjahit. Wanita pakaian Muslimah); 4. Berada di Arafah hingga terbenam matahari; 5. Mabit di Muzdalifah (minimal lewat ½ malam); 6. Melempar Jumrah (hari pertama hanya Aqabah. Disusul 2-3 hari melempar seluruh Jumrah); 7. Mabit di Mina (2-3 malam); 8. lTawaf Wada'

Selesai kegiatan, wah wah wah... pada kehausan dan capai semua. Cori pun kelaparan. Dia makan bekal nasi plus telur asin dan kecap manis. Menu sederhana tapi favorit Cori setiap sarapan pagi.

Ibu terharu jadinya. Niat ibu bisa naik haji saat umur 38 tahun. Ternyata, sebentar lagi nak, tinggal dua tahun. Dua khan ya, ibu dan ayah bisa melakukan perjalanan seperti yang Cori lakukan hari ini...Amin...

Jumat, 30 Oktober 2009

Cori Belajar Memotret Awal

Cori sedang belajar memotret. Apa saja akan coba dipotret.

Gayanya nggak nahan. Lucu banget.

Cori memotret Shima dan nenek, saat santai duduk di ruang tengah sambil nonton televisi.

Saat itu, umur Cori masuk dua tahun.

Wah, sudah pinter, mau mengikuti jejak siapa nih nak???...

Salam sayang ya...

Selasa, 15 September 2009

Shima Tertawa

Shima selalu tersenyum dan tertawa ngakak sejak kecil....

Hehehehehe.......

Apalagi saat diajak bercanda. Shima akan tertawa lepas.

Saat Shima sedang belajar berdiri, Ibu ngajak Shima bercanda. Ayah motret saat Shima tertawa lepas.

Hasilnya, lihat sendiri deh....

Ekspresi Shima lucu banget...

Sabtu, 01 Agustus 2009

Cory Aquino, dari Ibu Rumah Tangga Menuju Presiden Filipina

Antara

Mantan presiden Filipina Corazon "Cory" Aquino, meninggal pada Sabtu (1/8), di usia 76 tahun. Ia merupakan orang yang enggan menjadi pemimpin, kendati ia memimpin revolusi yang memulihkan negaranya menuju demokrasi pada 1986.

Corazon Aquino, selama tiga hari pada Februari tahun 1986, dunia menjadi saksi saat perempuan yang berpakaian kuning terang tersebut memimpin jutaan orang dalam pemberontakan damai yang menggulingkan diktator Ferdinand Marcos, yang telah memerintah dengan tangan besi selama dua dasawarsa.

Selama enam tahun berikutnya, Corazon --pemeluk kuat Katolik Roma-- mengubah undang-undang dasar.

Namun masa jabatan kepresidenannya, menurut kantor berita Prancis, AFP, dikotori oleh sedikitnya enam upaya kudeta gagal oleh militer, pertikaian militer, serangan gerilyawan dan kegagalannya mengubah sistem politik yang didominasi oleh suku keluarga elit.

Majalah Times menjadikan Corazon sebagai "woman of the year"-nya pada 1986 dan pada 2006 menjadikan dia sebagai salah seorang pahlawan Asia, dan memuji dia sebagai "keberanian yang tenang" serta menggambarkan dia sebagai "lambang Kekuatan Rakyat dan aspirasi bagi orang lain yang sedang berjuang melawan tirani di seluruh dunia".

Corazon (76), yang menderita kanker usus besar, menolak perawatan medis lebih lanjut setelah ia masuk ke satu rumah sakit Manila pada penghujung Juni, dan anggota keluarganya menemaninya dan penduduk di negara tersebut berdoa bagi kesembuhannya.

Corazon, yang dilahirkan di Cojuangco di provinsi Tarlac di bagian utara Filipina pada 25 Januari 1933, berasal dari keluarga yang istimewa, berkuasa dan kaya.

Ia mengenyam pendidikan di Amerika Serikat dan Manila, dan tak memiliki ambisi politik, tapi semua itu berubah ketika ia bertemu dan menikah dengan Benigno "Ninoy" Aquiona, wartawan muda yang memiliki reputasi besar dan juga berasal dari suku Tarlac, pada 1954.

Ninoy dipandang oleh banyak orang sebagai calon presiden, tapi buat Marcos, yang saat itu menjadi senator, ia menjadi ancaman.

Pada September 1972, Marcos mengumumkan keadaan darurat dan memenjarakan ratusan pengeritik dan penentangnya, termasuk Ninoy, yang kemudian hidup di pengasingan karena alasan medis.

Corazon Aquino membantu oposisi bertahan hidup, dan berbicara lantang atas nama suaminya serta menuntut perubahan.

Pada 1983, Ninoy --yang tak mengacuhkan saran teman-temannya-- terbang kembali ke Filipina dari pengasingan di Boston untuk bertemu dengan Marcos, yang sedang sakit.

Namun bahkan sebelum ia keluar dari pesawat, ia ditembak oleh beberapa pembunuh.

Jandanya, yang dirundung sedih, terbang kembali ke Filipina, tempat ia secara menceburkan diri untuk menyatukan kubu oposisi.

"Saya tak berusaha melakukan pembalasan, hanya keadilan, bukan hanya buat Ninoy tapi buat rakyat Filipina yang menderita," kata Corazon saat ia dengan terpaksa menerima pencalonannya.

Setelah Marcos menang dalam pemilihan umum, yang dinodai oleh kecurangan besar, pihak oposisi --yang dipimpin oleh Corazon dan didukung oleh gereja Katolik-- segera mengumpulkan sebanyak satu juta orang di jalan.

"Kekuatan Rakyat" telah lahir, Marcos segera terguling dan Corazon diambil sumpahnya sebagai presiden.

Ia segera membentuk satu komite guna merancang undang-undang dasar baru, melucuti kroni Marcos yang menguasai ekonomi dan membebaskan sejumlah pegiat politik.

Corazon juga memulai pembicaraan dengan gerilyawan Muslim dan komunis, tapi upayanya segera kandas oleh berbagai masalah di dalam koalisi pemerintah yang ia bangun. Ia belakangan lolos dari serangkaian upaya kudeta berdarah.

Selama menjalani masa pensiun, dan sampai ia menderita sakit, Corazon tetap tampil di hadapan umum, dan seringkali berbicara lantang menentang pelecehan yang diduga terjadi di dalam pemerintah.

Ia menjadi pengeritik lantang Presiden Gloria Arroy, yang keluarganya telah dituduh melakukan korupsi besar, dan bergabung dengan protes di jalan guna menentang Arroyo sampai ia didiagnosis menderita kanker usus besar pada Maret tahun lalu.

Corazon pernahan mengatakan, "Saya menyadari bahwa saya dapat membuat keadaan jadi lebih mudah buat diri saya kalau saya telah melakukan tindakan yang terkenal, dan bukan menyakitkan, tapi tindakan yang lebih baik dalam jangka panjang. Namun, dalam jangka panjang, saya takkan ada untuk dipersalahkan."

Keluarga mantan presiden Filipina, Corazon Aquino, yang wafat Sabtu, setelah menderita kanker usus besar, memutuskan untuk melakukan pemakaman pribadi terhadap panutan demokrasi itu pekan depan.

Keputusan itu ditetapkan tak lama setelah Presiden Gloria Arroyo menawarkan pemakaman kenegaraan untuk Aquino, dan memerintahkan masa berkabung nasional selama 10 hari.

Putra Cory Aquino, senator Benigno Aquino Jr., mengatakan dia dan keempat saudara kandungnya memutuskan untuk memakamkan ibu mereka di samping mendiang suaminya, di suatu pemakaman pribadi di Manila.

"Itu sudah menjadi keinginan sejak awal," kata Benigno Aquino Jr. Ia menambahkan bahwa tak seorangpun dari kantor kepresidenan yang telah mengontaknya "atau saya menunggu untuk berbicara dengan seseorang dari sana".

Ny. Aquino mengambil alih kekuasaan setelah ia memimpin revolusi "Kekuatan Rakyat" yang menumbangkan diktator Ferdinand Marcos pada 1986.

Suaminya, Benigno "Ninoy" Aquino dibunuh oleh antek Marcos tiga tahun sebelumnya, saat dia pulang ke Manila, setelah menjalani masa pengasingan di Amerika Serikat.

Ny. Aquino, yang dikenal sebagai pengecam vokal korupsi, dalam beberapa tahun belakangan ini mengalami pertikaian dengan Arroyo, yang keluarganya dituduh melakukan korupsi besar.

Benigno Aquino mengatakan jenazah ibunya akan disemayamkan ke kampus satu sekolah Katholik di Manila, dan akan diperlihatkan kepada umum Sabtu malam.

Missa harian akan diselenggarakan sampai Rabu, ketika jenazah Ny. Aquino akan dimakamkan di samping suaminya.


Corazon Aquino gives the Philippine revolution sign at Harvard
Philippine President Corazon Aquino gives the Philippine revolution sign to a standing ovation at Memorial Hall at Harvard University after delivering her address on September 20, 1986. Matina Horner, President of Radcliffe College (R) looks on. (UPI Photo/George Riley/Files)